Puisi: Sajak Ke-malu-an

Sajak Ke-malu-an

Tuhanku, tak kuat rasanya atas dosa yang selama ini aku tanggung, semakin kosong nama engkau dihatiku, semakin berat pula dosa yang aku pikul hingga serajin ini aku menegurmu.

Tuhanku, malu rasanya terhadap orang-orang yang selama ini engkau sayangi, kau dekatkan mereka kepadaku karena engkau ingin mengajarkanku kasih sayang melalui belaian mereka, aku justru iri dan dengki kepada mereka dan tak terkira.

Padahal sebelumnya, engkau selalu tunjukkan sifat pengasih dan penyayangmu disetiap hembusan nafasku dari al-qur'an yang sering ku baca, namun aku terlalu dibutakan oleh nafsu.

Padahal sebelumnya, engkau selalu ada disetiap kebutuhanku. Ku pinta banyak uang kau beri aku makan, ku pinta sebuah jabatan kau beri aku tempat tidur. Bahkan saat ku pinta cara untuk bertemu denganmu pun, kau kenalkan aku dengan banyak orang.

Tuhanku, aku malu kepadamu. Malu terhadap orang-orang yang pernah ku pandang sebelah mata itu, padahal mereka adalah wakilmu yang selalu engkau sembunyikan.

Tuhanku, harus dengan cara apa aku memintanya pengampunan, sementara malu-ku selalu menutupi keinginan-keinginan. Maka aku percaya kepada engkau yang selalu tersambung dengan setiap jiwa yang tercipta, sampai akhirnya engkau akan sampaikan permintaan maafku, hingga aku kembali bahagia bersama dari setiap senyum-senyum yang memukau.

Oleh: Zainal Abidin
Bondowoso, 04 Juli 2016.

0 Response to Puisi: Sajak Ke-malu-an

Posting Komentar

Terima kasih Anda telah berkomentar.