
Awan mendung yang menyelimuti langit biru, bukan alasan burung-burung untuk tidak berlari menuju sangkarnya. Dimana ia bertahan hidup dari ranting ke ranting yang lain, dan mengakhiri kejenuhan hari dengan beralas dedaunan kusam kerontan. Sebab, bukan hanya si mungil yang pandai menari dan bersiul, tanah yang kering pun mulai bersorak ria untuk menyambut turunnya air sejuk dari atap bumi ini. Sementara diatas kegersangan yang terpijak, aku hanya bisa terpaku sembari menyapu pandangan ke segala penjuru. Di hadapanku, begitu banyak manusia berlalu lalang menciptakan sejarah kehidupannya masing-masing.
Ingatanku kembali menerobos tabir hari-hari kemarin. Hari dimana kau telah memutuskan untuk menyerah pada kenyataan, terombang-ambing oleh badai yang membuatnya tak mampu lagi bertahan sekeras karang di lautan, dan karena hari itulah yang membuatku berbeda di tempat ini.
Berada di tempat yang manusianya tidak mengenaliku, adalah caraku untuk mengombang-ambingkan diri diantara harapan dan ke putus-asaan, nurani kerapkali diteror untuk senantiasa mempertahankan cinta dan kesetiaan. Kesetiaan terhadap kehidupan ini serta kepada rasa penghayatan dan perenungan yang selalu aku terjemahkan diam-diam.
Detik demi detik terus berlalu, sebatang rokok yang sengaja ku ambil dari dalam saku, mulai ku hisap kepulannya bersama nasib sepi dan laranya dalam-dalam. Namun bukan berarti seperti mereka yang hisapannya menghadirkan kebahagiaan, justru hal ini membuat jiwaku semakin gelisah mereka-reka dimanakah kebahagiaanku bersembunyi. Sedangkan di ujung jalan sana para orang kaya memandang jauh ke depan menyibak kemungkinan-kemingkinan besar, para pembesar negeri ini melotot, mendongak, mengintip sela-sela politik dan kekuasaan, para cendikiawan pandai mengamati cakrawala dan menumpahkan dari mulutnya beribu-ribu kata muluk dan menilai-nilai tinggi kebobrokan moral. Para seniman meraba-raba kalimat, warna, nada dan irama, seakan-akan mereka bekerja hanya untuk para bidadari di surga. Sedangkan aku hanya membangbung diri menahan lara hati bersama kerikil tajam nan berserakan di sepanjang jalan. Memelihara imajinasi dan fantasi, membayangkan dirimu hadir menghampiriku, menyeka air mata deritaku, memelukku, membisikiku dengan suara penuh kedamaian. "Menangislah sayang, di sini dipelukanku, aku tidak rela kau terlihat lemah di hadapan orang lain".
Oleh: F Kalimosodo.
Bondowoso, 20 Agustus 2016.
Ingatanku kembali menerobos tabir hari-hari kemarin. Hari dimana kau telah memutuskan untuk menyerah pada kenyataan, terombang-ambing oleh badai yang membuatnya tak mampu lagi bertahan sekeras karang di lautan, dan karena hari itulah yang membuatku berbeda di tempat ini.
Berada di tempat yang manusianya tidak mengenaliku, adalah caraku untuk mengombang-ambingkan diri diantara harapan dan ke putus-asaan, nurani kerapkali diteror untuk senantiasa mempertahankan cinta dan kesetiaan. Kesetiaan terhadap kehidupan ini serta kepada rasa penghayatan dan perenungan yang selalu aku terjemahkan diam-diam.
Detik demi detik terus berlalu, sebatang rokok yang sengaja ku ambil dari dalam saku, mulai ku hisap kepulannya bersama nasib sepi dan laranya dalam-dalam. Namun bukan berarti seperti mereka yang hisapannya menghadirkan kebahagiaan, justru hal ini membuat jiwaku semakin gelisah mereka-reka dimanakah kebahagiaanku bersembunyi. Sedangkan di ujung jalan sana para orang kaya memandang jauh ke depan menyibak kemungkinan-kemingkinan besar, para pembesar negeri ini melotot, mendongak, mengintip sela-sela politik dan kekuasaan, para cendikiawan pandai mengamati cakrawala dan menumpahkan dari mulutnya beribu-ribu kata muluk dan menilai-nilai tinggi kebobrokan moral. Para seniman meraba-raba kalimat, warna, nada dan irama, seakan-akan mereka bekerja hanya untuk para bidadari di surga. Sedangkan aku hanya membangbung diri menahan lara hati bersama kerikil tajam nan berserakan di sepanjang jalan. Memelihara imajinasi dan fantasi, membayangkan dirimu hadir menghampiriku, menyeka air mata deritaku, memelukku, membisikiku dengan suara penuh kedamaian. "Menangislah sayang, di sini dipelukanku, aku tidak rela kau terlihat lemah di hadapan orang lain".
Oleh: F Kalimosodo.
Bondowoso, 20 Agustus 2016.
Kamis
0 Response to Puisi: Harapan Kosong
Posting Komentar
Terima kasih Anda telah berkomentar.